Energipos.com/Terbarukan/Bisnis

shadow

Disparitas Harga Jadi Tantangan Pengembangan Biodiesel

ENERGIPOS.COM, JAKARTA-Indonesia sudah memiliki kebijakan pentahapan pemanfaatan biodiesel hingga menjadi B30 pada tahun 2020. Namun hal ini tidak mudah mengingat adanya disparitas harga dengan minyak solar akibat turunnya harga minyak dunia. Demikian disampaikan Direktur Bioenergi, Kementerian ESDM, Sudjoko Harsono Adi pada meresmikan Pabrik Biodiesel PT. Louis Dreyfus Company (LDC) Indonesia di di Jalan Soekarno Hatta km. 10, Kelurahan Way Lunik, Kecamatan Panjang, Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, Rabu (06/04).  Pabrik biodiesel ini memiliki kapasitas terpasang 420 ribu MT setara dengan 482 ribu KL per tahun.

Peresmian pabrik biodiesel tersebut dihadiri oleh Gubernur beserta pejabat dari Pemda Lampung, Duta Besar Swiss di Indonesia, perwakilan LDC Global maupun Asia dan pihak swasta terkait. Dengan beroperasinya pabrik biodiesel ini, maka kapasitas terpasang Biodiesel nasional saat ini menjadi sekitar 8,7 Juta KL per tahun. “Pemanfaatan biodiesel di Indonesia terus menunjukkan peningkatan dari 1,05 juta KL pada tahun 2013 menjadi 1,84 juta KL pada tahun 2014” kata Sudjoko. Menurut data Kementerian ESDM, pemanfatan biodiesel telah dimulai sejak tahun 2006 dan kemudian pada tahun 2008 melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 32 Tahun 2008 sebagaimana telah diubah terakhir kali dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2015 terdapat ketentuan  kewajiban penggunaan biodiesel (mandatory) antara lain pada sektor transportasi dan pembangkit listrik. “Pada tahun 2015, mandatori Biodiesel ditingkatkan dari 15% (B15) dan  meningkat menjadi 20% atau B20 pada tahun 2016 serta B30 pada tahun 2020” ungkap Sudjoko. Menurut dia, tantangan besar yang dihadapi dalam pengembangan biodiesel adalah adanya disparitas harga yang cukup besar antara bahan bakar minyak jenis solar dengan biodiesel khususnya pada harga minyak dunia yang murah saat ini. Begitu pula tidak tersedianya alokasi subsidi Biodiesel melalui APBN. Untuk mengatasi hal ini, Pemerintah telah membentuk Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) pada tanggal 10 Juni 2015 telah ada solusi terkait selisih kurang Harga Indeks Pasar (HIP) minyak solar dengan HIP Biodiesel yang akan dibayar oleh Badan tersebut khususnya untuk yang dicampur dalam BBM Jenis Tertentu (PSO). Melalui mekanisme pembiayaan oleh BPDPKS, maka sejak Agustus 2015 penyerapan Biodiesel dalam negeri mulai mengalami peningkatan dimana serapan selama 5 bulan terakhir memiliki peranan sebesar 80% terhadap total serapan Biodiesel di sektor PSO tahun 2015. LDC Grup memiliki 3 fasilitas produksi Biodiesel yaitu di Lagos, Argentina (kapasitas 1800 MT/hari); Claypool, USA (kapasitas 900 MT/hari); dan Wittenburg, Jerman (kapasitas 600 MT/hari). Dengan adanya fasilitas produksi Biodiesel di Provinsi Lampung dan kuatnya platform bisnis serta jejaring yang cukup luas yang dimiliki oleh PT. LDC Indonesia yang merupakan PMA sebagai bagian LDC Grup, diharapkan keberlanjutan produksi dan pasokan Biodiesel dari Lampung dapat memenuhi kebutuhan Biodiesel nasional yang terus meningkat (bh).

Baca Juga